SHALAT TARAWIH (Bagian II)
Oleh : Deni Solehudin
D.
Jumlah
Rakaat dan Kaifiyat Shalat Tarawih
1.
11
Rakaat (4+4+3), jumlah rakaat pilihan Rasulullah
saw. berdasarkan hadits di bawah ini :
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِالرَّحْمَنِ أَنَّهُ
أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ
وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا
تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ
حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ
عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
Artinya, ”Dari Abi Salamah ibn Abdirrahman ia telah menceritakan bahwa ia telah bertanya kepada Aisyah ra. bagaimana shalat Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Aisyah menjawab, ”Tidaklah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadhan (juga) pada bulan-bulan lainnya dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan engkau jangan bertanya tentang baik dan panjangnya. Beliau shalat (lagi) empat rakaat, dan jangan (pula) engkau bertanya tentang baik dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat. Aisyah berkata, ”saya bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah ! Apakah engkau tidur sebelum mewitirkan (mengganjilkan yang belum ganjil)? Beliau menjawab, ’Hai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur. [1]
Abu Salamah, seorang tabi’in yang penasaran ingin tahu mengenai shalat
malam Rasulullah di bulan Ramadhan, apakah ada perbedaan dengan di bulan-bulan
yang lainnya atau tidak? Maka Aisyah r.a. menjawab seperti di atas bahwa tidak
ada perbedaan jumlah rakaat baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya.
Kemudian Aisyah menjelaskan kaifiyahnya, yaitu empat rakaat, empat rakaat, dan
tiga rakaat. Jawaban Aisyah yang begitu jelas dan lengkap tersebut dalam ilmu
Balaghoh disebut Ziyadatul Bayan (Tambahan penjelasan) atau uslubul
Hakim jadi bukan ihtimal, sebagaimana difahami oleh sebagian orang. Ibnu Al ’Araby menyebutkan untuk jawaban
seperti itu dengan istilah : min mahasinil fatwa[2].
Hadits di atas
dalam shahih Bukhori disimpan di bawah Induk Pembahasan dengan judul :
" كتاب صلاة التراويح kemudian sub judul di
bawahnya dengan باب فَضْلِ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ. . Selanjutnya teks hadits di atas disimpat
dalam sub bahasan bab mata Rasul sw. tertidur
tetapi hatinya tetap terjaga. Dengan demikian dipahami bahwa Imam Bukhori memandang bahwa yang
dimaksud dengan salat tarawih itu adalah qiyam ramadhan. Selain di disimpan dalam bab di atas hadits
tersebut didapati juga dalam : باب قِيَامِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ
وَغَيْرِهِ.[3]
Imam Muslim memberikan topik dalam kitab sahihnya dengan judul : - باب التَّرْغِيبِ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ
وَهُوَ التَّرَاوِيحُ. ("Bab
motivasi untuk melaksanakan qiyam ramadhan yaitu tarawih)".
- باب صَلاَةِ اللَّيْلِ وَعَدَدِ رَكَعَاتِ النَّبِىِّ -صلى الله
عليه وسلم- فِى اللَّيْلِ وَأَنَّ الْوِتْرَ رَكْعَةٌ وَأَنَّ الرَّكْعَةَ صَلاَةٌ
صَحِيحَةٌ.[4]
Selain itu hadits ini juga terdapat dalam Sunan Abu
Dawud bab shalat malam[5],
Sunan Tirmidzi dalam bab hadits tentang sifat shalat Nabi saw.[6],
Sunan Nasa’i dalam bab bagaimana witir dengan tiga rakaat[7],
Sunan Ibn Majah bab hadits tentang berapa rakaat shalat malam dilakukan[8],
As Sunan Al Kubro Imam Nasa’i bab bagaimana shalat pada bulan ramadhan[9], Sunan Kubro Baehaqy bab riwayat mengenai
bilangan rakaat shalat pada bulan ramadhan[10]
dan bilangan rakaat shalat Nabi saw. Dan sifatnya[11],
Imam Malik dalam Al Muwaththa riwayat Muhammad bin Hasan bab shalat bulan
Ramadhan dan keutamaannya[12],
Musnad Abi ‘Awanah bab akhir bilangan rakaat yang Nabi saw. Shalat malam pada
bulan Ramadhan dan sesungguhnya beliau mendawamkannya pada setiap bulan[13], dll.
Pada
riwayat lain bagi Abi Syaibah II:16/1 dan Muslim serta lainnya disebutkan bahwa
shalat beliau di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya adalah 13 raka'at,
termasuk pada jumlah tersebut dua raka'at Fajar/Shubuh. Dengan demikian shalat malam Rasulullah
saw. tetap 11 rakaat.
Dan juga berdasarkan system penempatan para imam ahli
hadits untuk riwayat hadits Aisyah di atas benarlah apa yang dikatakan oleh
Aisyah bahwa Rasulullah saw. melakukan shalat malam baik di bulan Ramadhan yang
disebut dengan Qiyam Ramadhan/Tarawih dan di lain bulan Ramadhan tidak lebih
dari 11 rakaat.
2. 11 Rakaat (8+3)
Pendapat ini berdasarkan hadits di bawah ini :
عن جابر صلى بنا
رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت الليلة
القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج فيصلي بنا فأقمنا فيه حتى أصبحنا فقلنا
يارسول الله رجونا أن تخرج فتصلي بنا فقال إني كرهت أو خشيت أن يكتب عليكم
Artinya, ”Dari Jabir berkata : Rasulullah saw. mengimami
kami pada bulan Ramadhan delapan rakaat kemudian witir. Malam berikutnya
orang-orang berkumpul di masjid dan kami mengharapkan Rasulullah saw. keluar
dan mengimami kami. Tetapi beliau baru menemui kami pada waktu subuh. Maka kami
berkata, ”Wahai Rasulullah! Kami mengharapkan engkau keluar mengimami kami.
Rasul menjawab: Sesungguhnya aku khawatir shalat ini dianggap wajib.[14]
Ibnu
Nashr meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya di halaman 90, sedangkan Thabrani
dalam Al-Mu'jamus Shagir, halaman 108, sanad hadits ini hasan
karena dikuatkan oleh hadits yang pertama. Dalam kitab Fathul Baari
III:10 dan At-Takhlis halaman 119, Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi isyarat
penguatannya dengan hadits Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang terdapat dalam
kitab shahih mereka berdua.[15]
Hadits dari
Jabir di atas, walaupun sanadnya dipertentangkan karena dari Isa bin Jariyah
tapi lihat matannya. Hal ini barangkali menjadi bahan pertimbangan
Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah dan lainnya menganggap Isa bin Jariyah dalam hadits
ini dianggap shahih.
Selain hadits di atas, berikut keterangan lain yang
menjelaskan dan menguatkan keterangan Aisyah bahwa baik di bulan Ramadhan
maupun di bulan lainnya, bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam tidak
lebih dari 11 rakaat, hanya saja yang beda adalah teknis pelaksanaannya.
1752 - وَحَدَّثَنِى حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ
وَهْبٍ أَخْبَرَنِى عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ
بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ
مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ - وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ - إِلَى
الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ
وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ
وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ
خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ
الْمُؤَذِّنُ لِلإِقَامَةِ.
Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya
telah menceritakan kepada kami Ibn Wahb telah mengabarkan kepadaku 'Amru bin Al
Harits dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Zubair dari 'Aisyah isteri Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam pernah shalat antara habis shalat isya' yang biasa disebut 'atamah
hingga waktu fajar. Beliau melakukan sebelas rakaat, setiap dua rakaat beliau
salam, dan beliau juga melakukan witir satu rakaat. Jika muadzin shalat fajar
telah diam, dan fajar telah jelas, sementara muadzin telah menemui beliau, maka
beliau melakukan dua kali raka'at ringan, kemudian beliau berbaring diatas
lambung sebelah kanan hingga datang muadzin untuk iqamat."[16]
11 Rakaat Perintah Umar
عن مالك عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أنه قال ثم أمر
عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة
"Artinya: Dari Imam Malik dari Muhammad
bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata
: "Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dariy
supaya keduanya shalat mengimami manusia dengan sebelas rakaat".[17]
Al Baajy mengatakan,
“boleh jadi Umar mengambil hal tersebut dari shalat Nabi saw. sesuai dengan
hadits Aisyah.[18]
Dalam kesempatan lain Al Baajy mengatakan :”Ini menjadi nash bahwasanya yang
orang-orang oleh Umar satukan itu adalah pada qiyam Ramadhan, dan perintahnya
dengan mengimami 11 rakaat termasuk witir, dan sesungguhnya para sahabat dan
tabi’in pada masanya (Umar) mereka shalat tarawih 11 rakaat sesuai dengan
hadits Aisyah.[19]
Hadits tersebut terdapat juga dalam Mushannaf Ibn Abi Syaebah juz 2 hal 162
dalam bab shalat Ramadhan. Begitu juga dalam syarah Az Zarqony (1/341) dengan
redaksi :
وروى سعيد بن منصور عن عروة أن عمر جمع الناس على أبي بن كعب فكان يصلي بالرجال
وكان تميم الداري يصلي بالنساء[20]
وَقَالَ الْحَافِظُ
جَلَالُ الدِّينِ السُّيُوطِيُّ فِي رِسَالَتِهِ الْمَصَابِيحِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ
: قَالَ الْجُوْريّ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ : الَّذِي جَمَعَ
عَلَيْهِ النَّاسَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَحَبُّ إِلَيَّ وَهُوَ إِحْدَى عَشْرَةَ
رَكْعَةً وَهِيَ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ[21]
Al-Hafidz Jalaluddin As Suyuthy di dalam risalahnya Al
Mashabih fi Shalatit Tarawih: Al Jury sahabat kami telah berkata dari Imam
Malik bahwasanya ia berkata : Dan yang orang-orang kumpulkan oleh Umar bin
Khotob yang lebih aku sukai adalah 11 rakaat, dan itu adalah shalat Rasulullah
saw.
11 dan 13 Rakaat Pada Masa Umar
وقال الإمام سعيد بن منصور في
سننه حدثنا عبدالله بن محمد حدثني محمد بن يوسف سمعت السائب بن يزيد يقول كنا نقوم
في زمان عمر بن الخطاب بإحدى عشرة ركعة
Al Imam Sa’id bin
Mansur telah mengatakan dalam sunannya, telah menceritakan kepada kami Abdullah
bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Yusuf, ia
berkata Aku telah mendengar Saib bin Yazid berkata : Adalah kami melaksanakan
shalat tarawih pada jaman Umar bin Khotob 11 rakaat.[22]
و رواه محمد بن نصر في قيام الليل من طريق محمد
بن إسحاق حدثني محمد بن يوسف عن جده السائب بن يزيد قال كنا نصلي في زمن عمر رضي
الله عنه في رمضان ثلاث عشرة ركعة
Muhammad bin Nashr
telah meriwayatkan dalam bab qiyamul lael melalui jalan Muhammad bin Ishaq, ia
berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Yusuf dari kakeknya, Saib bin
Yazid berkata : Adalah kami melaksanakan shalat tarawih pada jaman Umar bin
Khotob pada bulan Ramadhan 13 rakaat.[23]
Ibn Ishaq mengatakan:
Keterangan ini merupakan keterangan yang paling menentramkan dalam hal rakaat
tarawih karena sesuai dengan hadits Aisyah tentang shalat malam Nabi saw.
wallahu A’lam.[24]
E. Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat
Adapun mengenai keterangan bahwa Nabi saw. pernah shalat tarawih lebih dari 11 rakaat, haditsnya sebagai berikut :
1. 20 rakaat
عن بن عباس ثم أن النبي كان يصلي في رمضان
عشرين ركعة سوى الوتر
"Artinya: Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi Shallahu 'alaihi wa sallam, shalat di bulan Ramadlan dua puluh raka'at, selain witir.[25]
Analisis Sanad
Dalam kitab Fathul Baari[26],
pada keterangan hadits pertama, Ibnu Hajar mengatakan : "Adapun yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam pernah shalat (malam) di bulan Ramadhan 20 raka'at dan berwitir
satu raka'at itu, sanadnya lemah. Hadits ini bertentangan dengan hadits 'Aisyah
yang terdapat dalam shahihain. Dalam hal ini 'Aisyah lebih mengetahui hal ihwal
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam harinya bila dibandingkan
dengan yang lain".
Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Imam
Az-Zaila'i dalam kitab Nashbur-Raayah.[27] Imam Suyuthi dalam kitabnya Al-Mashabih fi Shalatit
Tarawih[28] menyatakan bahwa hadits ini lemah sekali, tidak dapat
dijadikan hujjah. Yang menyebabkan kelemahannya adalah rawi yang
bernama ABU SYAIBAH IBRAHIM BIN 'UTSMAN. Perlu diketahui
walaupun hadits ini terdapat dalam banyak kitab tetapi jalur sanadnya hanya
satu, yaitu melalui Abu Syaibah tersebut.
2. 23 rakaat jaman Umar
ra.
وقد روى مالك عن يزيد بن رومان
قال كان الناس يقومون في زمن عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة
Dari Yazid bin Ruman, ia berkata : Adalah
manusia pada zaman Umar bin Khattab
mereka shalat (tarawih) di bulan Ramadlan dua puluh tiga raka'at".[29]
Keterangan :Hadits ini tidak sah !
Ketidak sahannya ini disebabkan karena dua penyakit :
Pertama
:
"Munqati"(Terputus Sanadnya).
Karena Yazid bin Ruman yang meriwayatkan hadits ini tidak bertemu dengan Umar
bin Khaththab atau tidak sezaman dengannya. Imam Baihaqi sendiri mengatakan :
Yazid bin Ruman tidak bertemu dengan Umar. Dengan demikian sanad hadits ini
terputus. Sanad yang demikian oleh Ulama-ulama ahli hadits namakan Munqati'.
Sedanghadits yang sanadnya munqati' menurut ilmu Musthalah Hadits yang telah
disepakati, masuk kebagian hadits Dla'if yang tidak boleh dibuat alasan atau
dalil.[30]
Kedua.
Riwayat diatas bertentangan dengan
riwayat yang sudah shahih bahwa justru perintah
dan kejadian jaman Umar adalah 11 rakaat.
3. 20 Rakaat jaman Umar
عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد
قال كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة (سنن البيهقي الكبرى ج: 2
ص: 496)
Dari Yazid ibn Khushaifah dari Saib bin Yazid ia berkata,
”mereka melaksanakan shalat (tarawih) pada jaman Umar ra. 20 rakaat.
Ditinjau dari segi matan, hadits
ini masih ihtimal. Karena siapa mereka? Apakah Umar tahu perbuatan
mereka? Jelas Umar tidak mengetahuinya. Kalau pun tahu, pasti Umar ra. Memerintahkannya
11 rakaat, sebagaimana keterangan sebelumnya.
Dari segi sanad, penulis mencoba meneliti sanadnya sebagai berikut :
Penilaian Terhadap Rawi 11 Rakaat & 20 Rakaat
1.
Pribadi Rawi
11 Rakaat
a.
Muhammad Ibn
Yusuf, Penilaian terhadapnya :
ü Tsiqotun Tsabtun (Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, II: 563)
ü Tsiqotun (Yahya ibn Ma’in, Al Jarhu wa Al Ta’dil, VIII: 118).
ü Yahya ibn Sa’id mengatakan : “Saya tidak mendapati seorang pun yang
menandingi ketsiqotannya”. (Tahdzib Al Tahdzib, IX: 471).
ü Dan berbagai pujian dilontarkan kepadanya, sebagaimana dimuat dalam
kitab Tahdzib al Kamal, XVII : 359). Dan tidak ada seorang pun yang mencelanya.
b.
Yazid ibn
Khushaifah, penilaian terhadapnya :
ü
Tsiqotun
Hujjatun (Yahya ibn Ma’in, Hadyu al Syaari : 631).
ü
Tsiqotun
(Ibnu Hajar, Taqrib al Tahdzib, II: 673).
ü
Berbagai
pujian pun dilontarkan kepadanya, seperti dari Imam Ahmad. Namun dalam riwayat
lain Imam Ahmad menilainya : Munkarul Hadits. (Mizanul I’tidal, IV: 430, Hadyu
al Syaari: 631).
ü
Dalam
kitab “Masyahir ‘Ulama Al Amshar, I: 135” disebutkan :”Yazib bin Abdullah ibn
Hushaifah adalah termasuk pemuka Ahli Madinah tetapi apabila ia menceritakan
menurut hapalannya maka ia itu sering salah”.
Artinya : dalam satu sisi memang tidak diragukan lagi kredibilitas Yazid ibn Khushaifah ini. Tapi dari sisi lain ada yang menjarhnya, yaitu Ahmad bn Hanbal. Sementara tidak seorang
pun yang menjrh Muhammad Ibn Yusuf.
Keterangan
:
1.
Penilaian
Tsiqotun Tsabtun berdasarkan disiplin Ilmu Hadits itu derajarnya lebih tinggi
dari Tsiqotun Hujjatun. (Abdul Qodir Hasan, Ilmu Mustholah Hadits: 41).
2.
Ditinjau dari
jalan Penerimaan dan Penyampaian Hadits (Tahammul Hadits wa Adaauhu)
Riwayat dari
Muhammad bin Yusuf lebih jelas (langsung menerima) dari As Saib karena memakai
kalimat “sami’tu”. Dan kalimat “sami’tu” adalah derajat penerimaan hadits yang
paling tinggi. (Ushul Al Hadits, Ulumuhu wa mushtholahuhu: 248). Kalimat “an”
dapat ditilai mendengar langsung kalau ada qorinah yang lain. Tetapi
kenyataannya ada hadits yang lebih kuat yang menyalahinya.
Kesimpulannya :
- Dari segi kredibilitas nampaknya Muhammad ibn Yusuf lebih kredibel dari Yazid ibn Khushaifah. Dan dari segi jalan penerimaan “sami’tu” lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan kalimat “‘an” (عن).
- Oleh sebab itu hadits yang menerangkan shalat tarawih pada jaman Umar yang kuat adalah yang menerangkan 11 rakaat.
- Dan Sekaligus menghapus pernyataan bahwa tarawih 20 rakaat itu adalah amalan ulama salaf, apalagi dakwaan ijma’.
Bahan pertimbangan :
Ketika dengan jelas bahwa jumlah 11 rakaat
adalah jumlah rakaat tarawih Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang
membantahnya tetapi untuk jumlah 20 rakaat dan lain-lain jumlah masih
diperselisihkan bahkan ada yang membid’ahkannya, seperti ungkapan As Shon’any
di bawah ini :
”Apabila engkau mengetahui bahwa tidak ada riwayat yang marfu’ (tentang 20
rakaat) bahkan justru terdapat hadits yang muttafaq atas keshahihannya bahwa
Rasulullah saw. tidak pernah melebihi 11 rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun
di bulan lainnya, maka engkau akan mengetahui bahwa cara shalat tarawih
sebagaimana dilakukan oleh khalayak awam itu adalah bid’ah” [31].
F.
Shalat
Tarawih Berjamaah
Shalat tarawih boleh dilakukan berjamaah dan boleh
sendiri-sendiri berdasarkan keterangan berikut :
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِي اللَّه عَنْهَا
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ
فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ
فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ
الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ
يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ
عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya, "Dari Aisyah, (ia berkata),
“Bahwasanya Rasulullah SAW. shalat di masjid, dan orang-orang pun ikut shalat
berjama’ah dengannya. Kemudian beliau shalat pada hari kedua dan orang-orang
pun semakin banyak kemudian mereka berkumpul pada hari ketiga atau keempat
(untuk berjama’ah) tetapi Rasulullah saw. tidak keluar menemui mereka. Ketika
masuk subuh beliau bersabda : Aku tahu apa yang kamu kerjakan, tidak ada yang
menghalangiku untuk keluar menemui kalian semua selain aku khawatir (shalat
itu) diwajibkan atas kamu”. Dan itu pada bulan Ramadhan.[32]
dalam riwayat lain redaksinya sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ
الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ
فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ
فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ
النَّاسُ يَذْكُرُونَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ
الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ
الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ
يَقُولُونَ الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ
أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ
يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمُ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ
عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا [33]
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin
Bukair berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu
Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa 'Aisyah radliallahu
'anha mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada
suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid,
orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat dibelakangnya. Pada waktu
paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam
berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan
Beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian
tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid
semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang
keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga akhirnya beliau keluar hanya
untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap
kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: "Amma ba'du,
sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi
aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak
mampu."
حَدَّثَنَا
أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثُمَامَةَ عَنْ
أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَيْهِمْ فِي رَمَضَانَ فَخَفَّفَ بِهِمْ ثُمَّ دَخَلَ
فَأَطَالَ ثُمَّ خَرَجَ فَخَفَّفَ بِهِمْ ثُمَّ دَخَلَ فَأَطَالَ فَلَمَّا
أَصْبَحْنَا قُلْنَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ جَلَسْنَا اللَّيْلَةَ فَخَرَجْتَ
إِلَيْنَا فَخَفَّفْتَ ثُمَّ دَخَلْتَ فَأَطَلْتَ قَالَ مِنْ أَجْلِكُمْ
Telah
menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Hammad
bin Salamah dari Tsumamah dari Anas sesungguhnya Nabi Shallallahu'alaihi wa
Sallam menemui para sahabat untuk melaksanakan tarawih Ramadlan, lalu Nabi
meringankan shalat bersama mereka, lalu beliau masuk rumahnya, dan melamakan
shalatnya, lalu datang lagi dan meringankan shalat bersama mereka. Lalu masuk
rumahnya dan memanjangkannya, ketika pagi hari kami bertanya, "Wahai Nabi
Allah tadi malam kami kami menunggu-nunggu anda untuk mendirikan shalat, lalu
anda keluar menemui kami dan anda meringankan shalatnya, lalu anda masuk rumah
dan memanjangkannya", beliau bersabda, "Ini kulakukan karena
mempertimbangkan kalian."[34]
Kesimpulan :
- Shalat tarawih / Qiyam Ramadhan 11 Rakaat adalah benar-benar / tidak diragukan lagi merupakan amalan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.
- Tidak ada satu pun keterangan yang shahih bahwa Rasulullah saw. shalat tarawih lebih dari 11 rakaat.
- Keterangan bahwa pada jaman Umar telah terjadi tarawih 20 rakaat maka haditsnya masih Shalat Tarawih IIdipertentangkan / diragukan keshahihannya, belum terhadap matannya / isi haditsnya yang masih ihtimal.
[1]
Bukhori/1147, 2008,2009. Muslim/1219. Tirmidzi/403. Nasa’i/1679. Abu
Dawud/1143. Ahmad/22944, 23307, 23579.
Malik/243.
[2] Subulus Salam, I: 16.
[4] Shahih
Muslim 2/166.
[6]Sunan
Tirmidzi 2/301.
[7] Sunan
Nasa’i 3/234.
[8] Sunan
Ibn Majah 2/377
[9] Sunan
kubro Nasa’i 1/232
[10] Sunan
Kubro Baehaqy … 2/220.
[11] Ibid,
3/292.
[12] Al
Muwaththa- riwayat Muhammad bin Hasan 1/351.
[13] Musnad
Abi awanah 2/252.
[14] Aunul Ma’bud, IV: 175
[16] Muslim,
bab shalat malam dan jumlah rakaat Nabi saw.: 2/165, Sunan Abu Dawud: 1/511.
[17]
Muwaththa Malik: 1/115, Sunan Kubro Baehaqy: 2/496.
[18] As
Suyuthy, Tanwirul Hawalik, 105; At Thohawy, Syarh Ma’anil Atsar: 1/293; Al
Adzim Abaady, Aunul Ma’bud syarah sunan Abu Dawud:3/159.
[19] At
Tibrizy, Miskatul mashabih, 4/655.
[20] Syarah
Az Zarqony, 1/341.
[21]
Al-Mashabih: 42.
[22] Aunul Ma’bud: 4/175 (nb.
Penulis mencoba mencari di maktabah syamilah mengenai riwayat ini dalam sunan
Sa’id bin Mansyur tetapi tidak menemukannya).
[24] Fathul Bary: 4/254.
[25]
Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan hadits ini dalam
Al-Mushannaf II:90/2, Abdun bin Hamid dalam Al-Muntakhab Minal Musnad
34:I/1, Thabrani dalam Al-Mu'jamul Kabir III:148 dan Al-Aushath,
begitu pula Adz-Dzahabi dalam Al-Muntaqa Minhu III:2 dan Baihaqi dalam
Sunannya II:496.
[26] IV:205-206.
[27] : II
:153
[28]
Hal. 17. (Dalam kitab ini dijelaskan secara panjang lebar penjelasan tentang
kedzaifannya). Lihat pula penjelasan
kelemahannya dalam kitab Shalatut Tarawih karya Imam Al-Albany, hal. 19.
[29] Hadits
Riwayat : Imam Malik di kitabnya Al-Muwath-tha 1/115.
[30] Al Hafidz Az Zaela’I, Nasbur Rayah, II: 154; An Nawawi, al Majmu’
Syarh Al Muhaddzab, IV: 33; Al Ainy, Umdatul Qory, V: 357.
[31] Subulus Salam Juz II: 10.
[32] Bukhori I: no 2011, Kitab Shalat Tarawih.
[33] Bukhori,
hadits no. 872; Shahih Muslim, hadits no. 1271
[34] HR.
Ahmad – 12111.






0 komentar:
Posting Komentar