Menyelamatkan Aqidah dan Ibadah Umat

Minggu, 29 Juni 2014

SHALAT TARAWIH I



SHALAT TARAWIH
Oleh : Deni Solehudin

قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Rasulullah saw bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” Al-Bukhari
A.     Penamaan Tarawih
Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari  تَرْوِيْحَةٌ  yang berarti waktu sesaat untuk istirahat.[1]

سُميت صلاة التراويح بهذا الاسم لأن المصلين يستريحون فيها بعد كل أربع ركعات، فينالون ترويحةً والجمع تراويح. وهذه الصلاة هي من قيام الليل، ولكنها خاصة بشهر رمضان، فهي تعني قيام الليل في رمضان.
Dan تَرْوِيْحَةٌ pada bulan Ramadhan dinamakan demikian karena para jamaah beristirahat setelah melaksanakan shalat tiap-tiap 4 rakaat. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan.[2]
Al Kirmany menyatakan :
اتفقوا على أن المراد بقيام رمضان صلاة التراويح
Mereka sepakat, bahwa yang dimaksud dengan qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih.[3]
Sedangkan menurut Syaikh Muhammad Ibn Ismâîl al-Shan’âniy (W.1182 H/1768 M), dalam kitab Subul al-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm mengatakan: Penamaan shalat Tarawih itu seolah-olah yang menjadi dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bayhaqiy dari Siti A’isyah sebagai berikut:
وَأَمَّا تَسْمِيَتُهَا بِالتَّرَاوِيحِ فَكَأَنَّ وَجْهَهُ مَا أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَأَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ تَفَرَّدَ بِهِ الْمُغِيرَةُ بْنُ دِيَابٍ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ فَإِنْ ثَبَتَ فَهُوَ أَصْلٌ فِي تَرَوُّحِ الْإِمَامِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ .
Artinya; Adapun penamaan shalat itu dengan nama Tarawih seakan-akan jalannya adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bayhaqiy dari Siti A’isyah ia berkata:”Sering kali Rasulullah mengerjakan shalat 4 rakaat pada malam hari, lalu beliau Yatarawwah (beristirahat) dan beliau melamakan istirahatnya hingga aku merasa iba”. Menurut Imam al-Bayhaqiy, bahwa hadis ini diriwayatkan melalui sanad al-Mughirah dan ia bukan orang yang kuat. Jika hadis ini memang jelas ketetapannya maka hadis inilah yang menjadi landasan Tarwihah (istirahat) imam pada waktu shalat Tarawih tersebut.
Pada zaman Rasulullah, istilah Shalat Tarawih belum dikenal. Rasulullah dalam hadis-hadisnya juga tidak pernah menyebut kata-kata Tarawih. Ibadah sunah yang dilaksanakan pada malam hari di bulan Ramadhan lebih familiar disebut Qiyam Ramadhan. Dengan kata lain, tarawih itu sekedar nama bukan sifat atau cara-cara shalat. Jadi, meskipun dilaksanakan dengan tergesa-gesa, tetap saja namanya shalat tarawih.

B.     Hukum dan Keutamaannya
Menurut Imam An Nawawi yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah)."[4]. Dan beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya hukum shalat tarawih ini dalam Syarh Shahih Muslim[5] dan Al-Majmu’.[6]
Adapun mengenai keutamaan shalat tarawih, ada beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan tarawih di antaranya :
1. Riwayat Abu Hurairah
Rasulullah saw. bersabda :
مَنْ قَامَ رَمَصَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah ta’ala , niscaya diampuni dosa yang telah lalu."[7]
Dalam As Sunan Kubro[8] ada tambahan lafal «وما تأخر». Abdullah bin Shalih Al Fauzan mengarang kitab minhatul ‘allam syarah bulughul maram menyebutkan bahwa hadits di atas menjadi dalil keutamaan qiyam ramadhan karena ia menjadi sebab diampuni dosa-dosa. Barangsiapa yang shalat tarawih sebagaimana mestinya maka ia telah melaksanakan qiyam Ramadhan. [9]

2.
Riwayat Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu,

إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوبِ كَيَوْم وَلَدَتْهُ أُمُّه

"Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.[10]


C.     Waktu Shalat Tarawih
Waktu shalat tarawih adalah antara shalat isya dan subuh. Teknis pelaksanaannya bisa dilaksanakan pada awal malam, tengah malam, atau akhir malam.[11]
إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya Allah telah menambah shalat pada kalian dan dia adalah shalat witir. Maka lakukanlah shalat witir itu antara shalat ‘Isya hingga shalat fajar."[12]

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتْ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ قَالَ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتْ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قَالَ قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِقِيَّةَ الشَّهْرِ
Dari Abu Dzar RA, dia berkata, "Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah SAW, belau tidak melakukan qiyamullail bersama kami sedikitpun selama sebulan itu, sampai tinggal tujuh hari terakhir, baru beliau melakukan qiyamullail bersama kami sampai berlalu sepertiga malam. Setelah malam keenam (dari akhir bulan), beliau tidak melakukan qiyamullail bersama kami. Ketika malam kelima (dari akhir bulan) beliau melakukan qiyamullail bersama kami hingga berlalu tengah malam. " Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau melakukan qiyamullail pada malam ini dengan memperbanyak shalat sunnah untuk kami. " Kata Abu Dzar, "Beliau bersabda, 'Sesungguhnya seorang laki-laki apabila mengerjakan shalat bersama imam sampai imam selesai, maka dihitung baginya seperti bangun semalam penuh.'" Katanya, "Ketika malam keempat (dari akhir bulan), beliau tidak melakukan qiyamullail (bersama kami). Setelah malam ketiga (dari akhir bulan), beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya dan orang-orang, lain melakukan qiyamullail bersama kami, sampai kami khawatir ketinggalan Al falaah.'" Kata Jabir, "Aku bertanya, Apakah Al falaah itu?'" Jawab Abu Dzar, "Waktu sahur, " kemudian beliau tidak lagi melakukan qiyamullail (bersama kami) lagi pada malam berikutnya dari sisa bulan itu. "[13]
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيِّ يَرُدُّهُ إِلَى أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ قَالَ لَمَّا كَانَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَلَمَّا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَعِشْرِينَ قَالَ إِنَّا قَائِمُونَ اللَّيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ وَهِيَ لَيْلَةُ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ فَصَلَّاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَاعَةً بَعْدَ الْعَتَمَةِ حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ لَمْ يُصَلِّ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ قَامَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ يَوْمَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ اللَّيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يَعْنِي لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَقُمْ فَصَلَّى بِالنَّاسِ حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةُ سِتٍّ وَعِشْرِينَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ سِتٍّ وَعِشْرِينَ قَامَ فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ يَعْنِي لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ قَالَ أَبُو ذَرٍّ فَتَجَلَّدْنَا لِلْقِيَامِ فَصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثَا اللَّيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى قُبَّتِهِ فِي الْمَسْجِدِ فَقُلْتُ لَهُ إِنْ كُنَّا لَقَدْ طَمِعْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَقُومَ بِنَا حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ إِذَا صَلَّيْتَ مَعَ إِمَامِكَ وَانْصَرَفْتَ إِذَا انْصَرَفَ كُتِبَ لَكَ قُنُوتُ لَيْلَتِكَ .قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah menceritakan kepada kami Shafwan bin 'Amru dari Syuraih bin Ubaid Al Hadlrami mengulang-ulangnya dari Abu Dzar bahwa ia berkata, "Pada sepuluh hari yang terakhir (bulan Ramadan) Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam beri'tikaf di masjid, maka ketika beliau melaksanakan shalat asar di hari ke dua puluh dua, beliau bersabda: 'Kami akan laksanakan shalat malam insya Allah, siapa saja dari kalian yang hendak bangun maka bangunlah di malam dua puluh tiga.' Nabi pun melaksanakannya dengan berjama'ah setlah shalat isya` hingga sepertiga malam, setelah itu beliau berlalu. Pada malam dua puluh empat beliau tidak melaksanakan shalat malam dan tidak bangun. Pada malam ke dua puluh lima, yakni pada hari kedua puluh empat, setelah melaksanakan shalat asar beliau berdiri dan bersabda: "Kita akan bangun di malam ini -yaitu malam kedua puluh lima- insya Allah, siapa saja yang hendak bangun maka bangunlah." Beliau pun bangun dan shalat bersama manusia hingga sepertiga malam. Pada malam dua puluh enam beliau tidak melaksanakan shalat malam dan tidak bangun, dan setelah melaksanakan shalat asar di hari kedua puluh enam, beliau berdiri dan bersabda bersabda: "Kita akan bangun di malam ini -yaitu malam kedua puluh tujuh- insya Allah, siapa saja yang hendak bangun maka bangunlah." Abu Dzar berkata, "Kami pun bersabar dan berusaha untuk bisa bangun, lalu kami shalat bersama beliau sepertiga malam. Kemdian beliau masuk ke dalam bilik yang ada di dalam masjid, maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, kami sangat berkeinginan agar engkau shalat bersama kami hingga datang waktu subuh.' Beliau menjawab: "Wahai Abu Dzar, sungguh bila engkau melaksanakan shalat hingga selesai bersama imam, maka engkau akan ditulis melaksanakan shalat semalam suntuk." Demikian riwayat 'Abdurrahman.[14]

bersambung.....Shalat Tarawih (bagian II)

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More