Perbedaan Antara Nabi dan Rasul
oleh : Deni Solehudin
A. Pengertian Nabi[1]
Nabi dalam bahasa Arab merupakan pecahan dari An Naba (النبأ) yang berarti khobar (berita). Allah swt. Berfirman :
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ (١)عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (٢)
1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya? 2. tentang berita yang besar. (Q.S. An Naba: 1-2).
Sebab ia dinamai nabi karena ia sebagai yang menerima berita (مُخْبَر ) dan yang menyampaikan berita (مُخْبِرٌ). Ia sebagai mukhbar karena Allah swt. Telah menyampaikan kabar dan mewahyukan kepadanya.
قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ (٣)
3. … lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (At Tahrim: 3).
Ia juga penyampai berita (mukhbir) dari Allah swt. Berupa perintah dan wahyunya.
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٤٩)وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ (٥٠)وَنَبِّئْهُمْ عَنْ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ (٥١)
49. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 50. dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.51. dan Kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. (Al-Hijr: 49-51).
Ada juga yang mengatakan An Nubuwwah merupakan kata jadian dari An Nabwah (النَّبْوَة) yang mengandung arti dataran tinggi (sesuatu yang di atas bumi). Orang Arab menyebutkan lafal nabi karena suatu pengetahuan dari pengetahuan-pengetahuan yang ada di bumi yang ia menuntun dengannya. Nisbah antara lafal nabi dan makna lughowi yaitu bahwa Nabi adalah orang yang mempunyai derajat yang tinggi dan kemampuan yang agung di dunia dan di akhirat. Para nabi adalah semulia-mulianya makhluk. Mereka dibekali pengetahuan yang dengannya manusia mendapat petunjuk untuk mendapat kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
B. Pengertian Rasul[2]
Al Irsal (الإرسال) menurut bahasa adalah at-taujih (التوجيه), pengarahan, pengiriman, pengutusan, penasihatan. Apabila anda mengutus seseorang dalam urusan penting maka ia adalah rasulmu. Allah ta’ala berfirman ketika menceritakan ratu Saba’ :
وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (٣٥)
35. dan Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu". (An Naml: 35).
Yang dimaksud utusan (rasul) dalam ayat di atas adalah seseorang yang diutus untuk mengikuti orang yang diutusnya, diambil dari perkataan orang Arab : " جاءت الإبلُ رَسَلاً " أي : متتابعة ..
Oleh sebab itu, para rasul mereka dinamai dengannya karena mereka diutus oleh Allah swt. berturut-turut (berkesinambungan).
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوهُ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ فَبُعْدًا لِقَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ (٤٤)
44. kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) Rasul-rasul Kami berturut-turut. tiap-tiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, Maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al Mu’minun: 44).
Mereka diutus dengan membawa risalah yang jelas, diberi tugas untuk mengembannya, menyampaikan dan terus berkesinambungan.
C. Perbedaan Antara Nabi dan Rasul
Tidak benar pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara rasul dan nabi. Yang menunjukkan atas kekeliruan pendapat di atas adalah dengan banyaknya para nabi dan rasul. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa jumlah para nabi adalah 124 ribu. Dan jumlah rasul adalah kira-kira 315 saja.[3]
Dan yang menunjukkan atas perbedaan antara nabi dan rasul, adalah dengan diathofkannya (disebutkan sacara terpisah antara lafal rasul dan nabi) sebagaimana firman-Nya :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلا نَبِيٍّ إِلا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٥٢)
52. dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Haj: 52).
Allah swt. mensifati sebagian rasul-Nya dengan nubuwwah dan risalah dikarenakan bahwasanya risalah adalah perintah tambahan atas kenabian, sebagaimana hak Musa as. :
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (٥١)
51. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan Nabi. (Maryam: 51).
Yang masyhur di kalangan ulama adalah sesungguhnya Nabi itu lebih umum daripada Rasul. Rasul adalah orang yang diberi wahyu dengan membawa syari’at dan diperintah untuk menyampaikannya. Sedangkan Nabi adalah orang yang diberi wahyu dan tidak diperintah untuk menyampaikannya. Oleh sebab itu, setiap rasul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul.[4]
Pendapat di atas tidaklah tepat dengan berbagai alasan :
Pertama, Sesungguhnya Allah swt. telah menyatakan bahwa Ia telah mengutus para nabi sebagaimana Ia telah mengutus para rasul, dalam firman-Nya :
!$tBur $uZù=yör& `ÏB y7Î=ö6s% `ÏB 5Aqß§ wur @cÓÉ<tR ….
52. dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, … (Al Haj: 52).
Kalaulah perbedaan antara keduanya adalah perintah untuk menyampaikan maka nabi pun dituntut untuk menyampaikan.
Kedua, tidak menyampaikan (risalah) sama dengan menyembunyikan wahyu Allah ta’ala, dan Allah tidak menurunkan wahyunya untuk disembunyikan dan dikubur dalam dada seseorang di antara manusia, kemudian lenyaplah ilmu ini dengan meninggalnya orang tersebut.
Ketiga, Sabda Rasul saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas :
: " عرضت عليَّ الأمم ، فجعل يمرُّ النبي معه الرجل ، والنبي معه الرجلان ، والنبي معه الرهط ، والنبي ليس معه أحد " [5]
Ditayangkan kepadaku umat-umat. Ada seorang Nabi hanya bersama seorang (pengikut), Ada yang hanya bersama dua orang, ada yang bersama beberapa orang, dan ada pula nabi yang tidak punya seorang pengikut pun.
Ini menunjukkan bahwasanya nabi diperintah untuk menyampaikan, dan mereka berbeda-beda dalam mendapatkan respon dakwahnya.
Dengan demikian definisi yang tepat (tentang rasul dan nabi) adalah :
" الرسولَ مَنْ أُوحي إليه بشرع جديد ، والنبيَّ هو المبعوث لتقرير شرع من قبله " [6]
Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan membawa syari’at yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus untuk menguatkan syari’at nabi sebelumnya.
Bani Israil mereka dipimpin olehj para nabi, setiap nabi yang meninggal digantilah dengan nabi yang lain, sebagaimana dalam hadits.[7]
" كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء ، كلما هلك نبيٌّ خلفه نبيٌّ "
Adalah bani Israil mereka dipimpin oleh para Nabi, setiap kali seorang nabi meninggal, digantilah ia oleh nabi (berikutnya).
Para nabi bani Israil semuanya diutus dengan membawa syari’at nabi Musa : Tauret, dan mereka diperintah kepada kaumnya untuk menyampaikan wahyu Allah.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (٢٤٦)
246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk Kami seorang raja supaya Kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". mereka menjawab: "Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, Padahal Sesungguhnya Kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim. (Al Baqarah: 246)
Perkataan Nabi sebagaimana dhahir ayat, diwahyukan kepadanya sesuatu untuk disampaikan kepada kaumnya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan kewajiban untuk menyampaikannya (tabligh).
Sebagai gambaran, lihat bagaimana keadaan Dawud, Sulaiman, Zakaria, dan Yahya. Mereka semua adalah para nabi, mereka ditugaskan untuk memimpin bani Israil, dan menghakimi di antara mereka dan menyampaikan yang hak. Wallahu A’lam bis showab.
[1] lihat Lisanul ‘Arab: 3/561, 573; Bashair Dzawit Tamyiz : 5/14; Lawami’ul Anwar : 1/49, 2/265.
[2] lihat Lisanul ‘Arab: 2/1166-1167; Al Misbahul Munir : 266;
[3] Hadits Shahih riwayat Ahmad dalam musnadnya no. 21546, 21552 cet Ar Risalah.
[4] Syarah Aqidah Thohawiyah: 167; Lawami’ul Anwar: 1/49; dan lihat perkataan Syaikh Nashiruddin Al Albany atas sanadnya dalam silsilah shahihah: 2668.
[5] H.R. Bukhori: 5752; Muslim: 220 dengan memakai redaksi Bukhori.
[6] Tafsir Al Alusy: 7/157.
[7] Riwayat Bukhori dari Abu Hurairah: 3455.






0 komentar:
Posting Komentar