Menyelamatkan Aqidah dan Ibadah Umat

Tokoh dan Ulama Persis

Tokoh dan Para Mantan Ketua Umum PP Persis Yang Perjuangannya Tidak Mungkin Dapat Kami Lupakan dan Lampaui

Muscab Persis Pameungpeuk

Persis Pameungpeuk Selalu Beristiqomah Dalam Menegakkan Qur'an Sunnah Bersenjatakan Dalil dan Hujjah Yang Kuat

Pelantikan Tasykil 2012-2016

Titik Tonggak Perjuangan Demi Mengidharkan Agama Alloh Atas Keyakinan-Keyakinan Yang Bathil

Muscab Persistri

Persistri Sebagai Penopang Utama Perjuangan Persis dengan moto sebaik-baik Perhiasan Dunia Adalah Wanita Salehah

Muscab Pemudi Persis

Pemudi Persis adalah pemudi harapan umat sebagai penerus perjuangan persistri dalam membangun dan mempertahankan peradaban Islami para remaja terutama putri

Tampilkan postingan dengan label Penafsiran A. Hasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penafsiran A. Hasaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Penafsiran A. Hasaan Tentang Huruf-huruf Muqata’ah (studi komparasi terhadap penafsiran Ibn ‘Abbas)

Penafsiran A. Hasaan Tentang Huruf-huruf Muqata’ah
(studi komparasi terhadap penafsiran Ibn ‘Abbas)
Kinkin Syamsudin

            Dalam pendahuluan Tafsir Al Furqan, tepatnya di fasal 32, A. Hassan mencantumkan satu pembahasan khusus mengenai huruf-huruf muqata’ah. Huruf-huruf tersebut terletak di permulaan 29 surat, dan jika dihitung maka jumlah hurufnya adalah 14 buah huruf Hijaiyyah, yaitu:  ا ج ر س ص ط ع ك ق ل م ن ه ي. Menurut A. Hassan, arti dan maksud dari huruf-huruf muqata’ah tersebut diperselisihkan oleh para ulama tafsir. Di antara perselisihan tersebut, ada beberapa kesimpulan yang dikemukakan, yaitu:
1.    Tidak ada yang tahu arti dan maksudnya selain Alla swt,
2.    Nama bagi surat-surat,
3.    Huruf-huruf yang pertama dari nama-nama Allah swt,
4.    Huruf-huruf yang pertama atau yang ditengah dari nama Allah swt,
5.    Huruf-huruf dari nama-nama Allah, Jibril dan Muhammad,
6.    Huruf-huruf dari kalimat-kalimat yang berhubungan dengan Allah dan rasul-Nya.[1]
            Variasi dari huruf-huruf muqata’ah tersebut ada yang terdiri dari satu huruf, dua huruf, tiga huruf, empat huruf dan lima huruf. Di antara bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut:

1.        الم (alif lam mim)
            Variasi ini terdapat di permulaan ayat surat Al Baqarah, Ali Imran, Al ‘Ankabut, Ar Rum, Luqman dan As Sajdah. Mengenai lafazh الم ini, A. Hasaan menafsirkannya sebagai berikut: alif adalah ringkasan atau potongan huruf dari kalimat “Allah” atau “Ana” (aku). Lam adalah ringkasan atau potongan huruf dari “Jibril”, “Allah” atau “Lathîf” (Pemanis, Pelemah lembut). Mim adalah ringkasan dari potongan kalimat “Muhammad”, “A’lam (Yang lebih mengetahui), atau “Majid” (Yang amat mulia atau Yang amat dijunjung). Maka alif lam mim itu bisa diartikan bermacam-macam; Allah, Jibril, Muhammad; Aku, Allah yang lebih mengetahui; Allah, Yang Maha Lembut, Yang Maha Mulia. Jadi, maksudnya adalah, 1) Quran ini dari Allah kepada Jibril, lalu kepada Muhammad, 2) Quran ini dari-Ku, Allah yang lebih mengetahui, 3) Quran ini dari Allah Yang Maha Lembut, Maha Mulia.[2] Penafsiran seperti ini sama dengan dengan penafsiran yang dikatakan oleh Ibn ‘Abbas.[3]

2.        الر (alif lam ra
Bentuk huruf muqata’ah ini terdapat di permulaan surat Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim dan Al Hijr. A. Hassan mengartikannya sebagai berikut: 1) Aku, Tuhan yang melihat,[4] dan 2) Aku, Allah, Penyayang.[5] Penafsiran ini sama dengan yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas.[6]
3.        المر (alif lam mim ra)
Variasi ini hanya terdapat dalam satu surat, yaitu Ar Ra’d. Mengenai ayat ini, A. Hassan menafsirkannya sebagai berikut: Aku, Tuhan, Yang Mengetahui, Yang Melihat.[7] Penafsiran ini sama seperti yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas.[8]  

4.        كهيعص (kaf ha ya ‘ain shad)
            Variasi seperti ini hanya terdapat dalam satu surat, yaitu ayat pertama surat Maryam. A. Hassan mengartikannya sebagai Yang Cukup (atau Pemurah), Yang Memimpin, Yang Berkuasa (atau Pemberi Berkat), Yang Sangat Mengetahui dan Yang Benar,[9] dan hal ini juga sama seperti yang ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas.[10]

5.        طه (tha ha)
            Terdapat dalam ayat pertama surat Thaha dan dalam catatan kakinya A. Hassan memberikan penjelasan berikut; ‘Hai manusia! Kata Kalbi: kalimah ‘Thaha’ dipakai oleh kabilah ‘Ukkk (segolongan kabilah Arab) dengan arti ‘Hai manusia’. Kata Qatadah: alam bahasa Suryani, artinya ‘Hai laki-laki’. Maksud ‘manusia’ atau ‘laki-laki’ di sini ialah nabi Muhammad.[11]

6.        طس (tha sin)
            Terdapat dalam surat An Naml ayat pertama. Menurut A. Hassan tha sin artinya adalah yang suci, yang sejahtera. Maksudnya: Hai Muhammad yang suci dan bersih dari dosa dan yang berhati sejahtera, bahwa yang diturunkan kepadamu ialah ayat-ayat Quran yang jadi Kitab agamamu; dan juga demikian, adalah ayat-ayat dari Kitab yang nyata di Al Lauhil Mahfuzh yang jadi asal bagi Quran itu.[12]

7.        طسم (tha sin mim)
            Terdapat dalam surat Asy Syu’ara dan Al Qashash. A. Hassan menafsirkannya yang suci, yang sejahtera,yang terpuji. Maksudnya: Hai Muhammad yang suci dari dosa, yang sejahtera hati, yang terpuji di sisi Kami.[13]

8.        يس (ya sin)
            Terdapat dalam surat Yasin. A. Hassan menafsirkan Ya sin: Hai Manusia! Maksudny: Hai Muhammad![14]

9.        ص (shad)
            Terdapat dalam ayat pertama surat Shad. A. Hassan menafsirkannya benar ia. Maksudnya, demi Quran yang mengandung peringatan, telah benar Muhammad dalam segala apa yang ia ucapkan.[15]
10.    حم (ha mim)
            Terdapat dalam surat Al Mu’min, Fushilat, Asy Syura, Az Zukhruf, Ad Dukhan, Al Jatsiyah dan Al Ahkaf. A. Hassan menafsirkan ha mim yang terpuji, yang mulia.[16]

11.    عسق (‘ain sin qaf)
            Terdapat dalam ayat kedua di surat Asy Syura. A. Hasan menafsirkan ‘ain sin qaf dengan Yang Mengetahui, Yang Mendengar, Yang Berkuasa.[17]

12.    ق (qaf)
            Terdapat dalam ayat pertama surat Qaf. A. Hassan menafsirkan bahwa qaf adalah potongan dari qadir, artinya yang berkuasa, yakni Allah itu berkuasa.[18]  

13.    ن (nun)
            Terdapat dalam ayat pertama surat Al Qalam. Nun ditafsirkan oleh A. Hassan sebagai tempat tinta. Maksudnya, perhatikanlah tinta, qalam dan sesuatu bahan yang digunakan tinta dan qalam padanya, yakni perhatikanlah Quran yang diturunkan kepada Muhammad yang tertulis dan terpelihara. Kalau kamu perhatikan, niscaya tidak kamu katakan dia gila, ahli syair, ahli sihir dan lain-lainnya.   


[1] A. Hassan, Tafsir Al Furqân (Bangil: Pustaka Tamaam, 1999), hlm. xxvi-xxviii
[2] Ibid, hlm. 2.
[3] lihat dalam Abû Thâhir Muhammad Al Fairuzâbâdî, Tanwîr Al Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs (Jedah: Al Haramain, tt), hlm. 3, 34, 245, 250, 254 & 257.
[4] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 390, 438, 477 & 489.
[5] Ibid, hlm. 414.
[6] lihat Al Fairuzâbâdî, Tanwîr Al Miqbâs, hlm. 130, 137, 146, 159 & 164.
[7] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 464.
[8] lihat Al Fairuzâbâdî, Tanwîr Al Miqbâs, hlm. 155.
[9] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 576.
[10] lihat Al Fairuzâbâdî, Tanwîr Al Miqbâs,
[11] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 593.
[12] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 736.
[13] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 712.
[14] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 858.
[15] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 888.
[16] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 916, 932, 944, 957, 973, 981 & 988.
[17] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 944.
[18] A. Hassan, Tafsir Al Furqân, hlm. 1019.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More